Kamis, 09 Juni 2016

[Book Review] Tidak Ada New York Hari Ini - M Aan Mansyur


Judul: Tidak Ada New York Hari Ini
Penulis: M Aan Mansyur
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 120 Halaman
ISBN: 978-602-03-2723-5
Kategori: Puisi

***
Siapa yang tidak tahu buku puisi ini?. Buku puisi yang paling menghebohkan beberapa waktu terakhir. Buku ini menjadi hits berbarengan dengan keluarnya film AADC 2. Mengapa tidak, pasalnya buku ini memuat puisi-puisi yang dibacakan Rangga di film AADC 2. Puisi-puisi ini ditulis dengan apik oleh Aan Mansyur yang memang sudah dikenal sebagai seorang penyair muda. Melalui Aan Mansyur terciptalah puisi-puisi yang menggambarkan perasaan Rangga terhadap Cinta setelah 14 tahun berpisah. Keseluruhan puisi ini memang ditulis berdasarkan kejadian dan dialog AADC 2, hasil observasi penulis tentang New York dan segala hal yang berhubungan dengan Rangga.


Buku ini tidak hanya berisi puisi-puisi saja tetapi juga bersisi street photography New York yang diambil oleh Mo Rizal. Kehidupan New York sedikit tidak tergambar melalui foto-foto tersebut. Foto-foto hitam putih itu cukup menyegarkan mata di sela-sela membaca puisi. Foto Rangga juga ada kok di buku ini, jangan khawatir (siapa tau mau digunting lalu disimpan di diary #uhuk).  

Sejak tahu dari instagram Aan Mansyur kalau buku ini akan terbit, saya sudah tidak sabar untuk segera memilikinya. Saya penasaran bagaimana karya terbaru Aan Mansyur. Sebagai penyuka puisi tentu saja saya tidak akan melewatkan mengoleksi buku ini. Kehadiran Aan Mansyur dengan gaya berpuisinya telah membawa atmosfir baru di dunia penulisan puisi. Puisi Aan Mansyur lebih bercerita, dengan pilihan kata yang luar biasa hingga tetap menghasilkan rima yang indah bagi puisinya. Aan Mansyur memberikan ruang yang lebih bebas bagi puisi. Dan semakin banyak orang yang menyadari hal ini.

Terlepas dari penulisan puisi-puisi yang diperuntukkan bagi kepentingan film saya tetap jatuh hati pada puisi-puisinya. Puisi-puisi ini didominasi tema perpisahan, kegelisahan, dan juga rasa rindu, yang kesemuanya bisa membuat bekas di hati. Sebagaimana puisi lainnya setiap puisi di buku ini juga bebas diartikan oleh setiap pembacanya. Masing-masing orang bisa memiliki versinya sendiri. Beberapa puisi dalam buku ini menjadi favorit saya seperti puisi “Batas”, “Pukul 4 Pagi”, dan “Akhirnya Kau Hilang”.

Well, kalau mau menikmati puisi sambil membayangkan wajah Rangga maka buku puisi ini bisa menjadi jalannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar