Jumat, 20 Mei 2016

[Book Review] Sudahkh Kau Memeluk Dirimu Hari Ini? - M Aan Mansyur


Judul: Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini?
Penulis: M Aan Mansyur
Penerbit: Motion Publishing
Tebal: 184 Halaman
ISBN: 978-602-95360-2-7
Kategori: Puisi
Ini adalah buku kumpulan puisi Aan Mansyur kedua yang saya baca. Meskipun buku ini sudah terbit sejak 2012 lalu tapi yaa saya baru membacanya sekarang. Sejak mengenal Aan Mansyur lewat buku Kukila saya jadi penasaran dengan buku-bukunya yang lain. Jadilah saya mencari buku-bukunya yang terdahulu, termasuk buku ini. Hati rasanya senang gara-gara nambah lagi koleksi buku puisinya, langsung dibaca kok, nggak ditimbun dulu #ups.


Buku ini berisi 177 judul puisi yang terbagi ke dalam beberapa bagian yaitu bagian Aku Hendak Pindah Rumah, Cinta Yang Marah, Hujan Rintih-Rintih, dan Surat Cinta Yang Ganjil. Buku ini bisa dikatakan sebagai kumpulan puisi Aan dari buku puisinya yang pernah terbit sebelumnya. Di antaranya dari buku puisi Aku Hendak Pindah Rumah, Cinta Yang Marah, dan Hujan Rintih-Rintih. Sebagian lain adalah puisi-puisi baru yang belum pernah diterbitkan. Jadi kita masih bisa menikmati puisi-puisi yang ditulis Aan ketika awal dia menulis puisi.

Puisi-puisi di dalam buku ini bercerita tentang banyak hal. Ada cinta, kegelisahan, rindu, dan kemarahan. Semuanya bermuara pada perasaan yang bisa dialami oleh setiap orang. Melalui puisi-puisi ini kita akan tahu bahwa memang beginilah gaya Aan menulis puisi, selalu mengalir. Bercerita dengan tenang namun dalam. Saya selalu menyukai pilihan-pilihan kata yang digunakan Aan dalam puisinya. Mungkin karena banyak berdasarkan pengalaman pribadi Aan jadi bagi saya puisi-puisi ini terasa dekat sekali dengan perasaan seseorang. Seperti bisa merakannya sendiri, perasaan penulisnya.
Banyak puisi yang menjadi favorit saya di dalam buku ini, salah satunya:

kepada cucu seorang yang menolak aku menjadi menantu

aku menulis puisi sebab waktu kanak-kanak aku ingin menjadi seorang astronot – dan tidak mau guru dan teman-temanku tertawa sekali lagi karena ibuku janda penjual tomat. aku menulis puisi agar mereka tahu anak penjual tomat juga boleh menyimpan cita-citanya di bulan, di langit, atau di tempat yang jauh lebih tinggi.

aku menulis puisi sebab aku tidak mau menyakiti hati ibuku dengan kata-kata saat aku tidak mampu menjadi anak lelaki yang kuat mengangkat cangkul karena penyakit yang lahir bersama jantungku. aku menulis puisi agar ibuku mau tersenyum ketika lelah pulang dari pasar dan tidak ada tomatnya yang laku.

aku menulis puisi  sebab aku ingin mengungkapkan kepada teman-temanku aku tak mampu beli sepatu dan baju model terbaru. Aku tak mampu mengajak gadis-gadis yang aku suka ketawa bersama di kantin sekolah atau kafe bagus. aku menulis puisi agar kau tahu kata-kata telah membuat aku tak bunuh diri karena setiap hari mendengar mereka menertawai aku di sekolah.

aku menulis puisi sebab aku berharap bisa jadi suami yang tak mampu meneriakkan kalimat kasar kepada istri dan anak-anaknya. waktu kecil, aku menangis saat ayah membentak aku dan ibuku. aku senang mendengar musik tapi bahkan main gitar aku tak tahu. aku menulis puisi agar orang-orang tahu kata-kata adalah pedang yang bisa dilipat menjadi perahu dan pesawat mainan juga bunga untuk ruang keluarga.

aku menulis puisi sejak masih kecil seperti kamu, bukan untuk menjadi penyair. aku ingin menjadi astronot, seorang yang mampu ke tempat tertinggi di mana pernah dia menyimpan mimpinya. Aku menulis puisi ini untukmu di jendela, sambil berpandangan dengan bulan, agar kamu tahu aku gagal dalam banyak hal di hidupku – termasuk menjadi suami ibumu.

aku menulis puisi ini agar kamu tahu bahwa kehidupan, bagaimana pun kejamnya, selalu indah untuk dituliskan menjadi puisi.

Membaca puisi di atas saya jadi membayangkan seorang pria lugu yang lembut hatinya. Dan saya juga suka banget sama kalimat terakhir puisi tersebut. Juara deh.

Oh ya di dalam buku puisi ini tidak terdapat satu pun huruf kapital. Semua kata ditulis dengan huruf kecil mungkin hal ini untuk mengikrarkan Aan Mansyur dengan inisial huruf kecil yaa #sotoy. Okey tapi ini salah satu yang bikin menarik sih.


Saya tidak melihat buku puisi ini beredar di toko-toko buku offline namun banyak di toko-toko buku online. Jadi kalau mau mendapatkannya bisa beli online. Tinggal cek di om gugel deh toko buku online yang jual buku puisi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar